Selasa, 04 Desember 2018

PERCOBAAN V
DEMULSIFIKASI EMULSI

I. Tujuan
Untuk menunjukkan demulsifikasi emulsi karena perubahan tegangan antar muka.
II.  Landasan Teori
Emulsi adalah suatu suatu sistem koloid yang fase terdispersi dan medium pendispersinya berupa cairan yang tidak dapat bercampur. Misalnya benzena dalam air, minyak dalam air dan air susu . Mengingat kedua fase tidak dapat bercampur, keduanya akan segera memisah. Untuk menjaga agar emulsi tersebut mantap atau stabil, perlu ditambahkan zat ketiga yang disebut emulgator atau pengemulsi. Beberapa bahan kimia alami dapat digunakan sebagai emulgator seperti gelatin, pektin. Kuning telur, pasta kanji, kasein.  Albumin, gom arab dan madu alam. Bahan kimia sintesis seperti sabun,  deterjen, kalsium butirat, CMC (Carboxy Methyl Cellulose), metil selulosa dan etanolamin juga dapat dipakai untuk maksud yang sama. Syarat emulgator adalah molekul-molekulnya mempunyai afinitas terhadap kedua cairan yang membentuk emulsi. Daya afinitasnya harus parsial atau tidak sama terhadap kedua cairan tersebut. Salah satu ujung emulgator larut dalam cairan yang satu, sedangkan ujung yang lain hanya membentuk lapisan tipis atau selapis molekul di sekeliling atau di atas permukaan cairan yang lain. Jika kita mempunyai cairan L1 dan L2 yang tidak tercampur kan kemudian ditambahkan dengan emulgator dan dikocok kemungkinan akan timbul emulsi jenis L1/L2 atau L2/L1. Jenis emulsi L2/L1 akan terbentuk bila emulgator larut dengan baik dalam L1 dan membentuk lapisan monomolekuler di atas permukaan L2. Jenis emulsi L1/L2 terjadi sebaliknya yaitu, bila emulgator larut dengan baik dalam L2 dan membentuk lapisan monomolekuler di atas permukaan pada permukaan L1 (Sumardjo, 2008).
Sistem emulsi dapat distabilkan dalam jangka waktu lama apabila ditambahkan senyawa yang memiliki kemampuan untuk mengikat dua senyawa yang berbeda kepolaran tersebut. Emulsi yang stabil pada dasarnya tersusun dari tiga komponen yaitu fase polar (suka air = hidrofilik) fase non polar (suka minyak = hidrofobik) dan senyawa yang memiliki kemampuan berikatan dengan senyawa polar sekaligus senyawa non polar yang disebut sebagai emulsifer (pengemulsi). Emulsi terdapat dua tipe yaitu, berdasarkan apa fase terdisfersi /fase pendisfersinya yaitu:
  1. Minyak sebagai fase yang terdispersi dalam air, emulsi ini disebut sebagai minyak di dalam air yang seringkali dituliskan sebagai oil in water.
  2. Air sebagai fase terdispersi dalam minyak, emulsi ini adalah air didalam minyak dan dituliskan sebagai water in oil.
Zat pengemulsi dapat dipilah sesuai fungsinya, sumber, jenis, sifat ionisasi, serta kelarutannya karenaluas dan beraneka variasi pengemulsi dengan berbagai sifatnya. Jika tidak ada satu sistem pengelompokkan yang berlaku sempurna menyeluruh. Istilah emulsi bagi pangan sebenarnya bukan sekedar emulsi. Sifat dan pengaruhnya tidak hanya mengemulsikan tetapi luas dari itu. Zat pengemulsi dapat dikelompokkan berdasarkan kecenderungan ionisasi dalam larut berair yaitu ionik dan tak ionik. Pengelompokkan sesuai sifat dan ciri kelarutannya dapat lipofilik (suka minyak) atau hidrofilik (suka air).
Klasifikasi emulsi  yang lainnya adalah berdasarkan ukuran partikel yang terdispersi, yaitu makroemulsi (ukuran partikel adalah lebih besar dari 0,1 µm) dan mikroemulsi (partikel berukuran lebih kecil dari 100 nm). Tipe emulsi yang berbeda akan membutuhkan pengemulsi yang berbeda pula untuk mempertahankan kestabilannya dalam waktu lama (Muchlisyiyah et al., 2017).
Partikel dari fase dispersi biasanya bahan padat yang tidak larut dalam medium disperse. Dalam hal suatu emulsi, fase terdispersi adalah bahan cair yang tidak larut maupun bercampur dengan cairan dari fase pendispersi. Proses emulsifikasi menghasilkan disporse obat cair sehalus tetesan - tetesan pada fase pendisperse.  Partikel dari fase terdispersi ukurannya sangat berbeda beda, dari partikel yang dapat dilihat dengan mata telanjang sampai kepartikel dari ukuran koloid, jatuh antara 1 milimikron dan kira-kira 500 milimikron atau 0,5 mikron. Dispersi yang berisi partikel-partikel kasar biasa dengan ukuran 1 - 100 mikron, disebut juga sebagai dispersi kasar yang mengandung partikel dengan ukuran kecil disebut dispersi halus dan bila partikel-partikel yang ada dalam batas kiloid disebut dispersi koloid (Atkins, 1996).
Dalam suspensi saat padat yang dalam terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap. Jika dikocok-kocok perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi kembali. Dapat mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspense. Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi sehingga mudah dikocok dan dituang. Seringkali partikel-partikel dari suatu suspensi mengendap terlalu cepat sehingga tidak konstan dengan batasan sebagai suatu preparat yang baik. Pengendapan yang cepat tersebut merintangi pengukuran dosis yang tepat dan dari segi estetis menghasilkan suatu lapisan supernatant  yang tidak sedap dipandang. Dalam banyak suspensi yang beredar di perdagangan, zat pensuspensi ditambahkan kemedium dispersi untuk menghasilkan struktur yang membantu terdispersinya fase dalam suspensi. Karboksimetil selulosa dan bentonit merupakan beberapa diantara zat pensuspensi yang di digunakan untuk mengentalkan medium dispersi dan membantu terdispersinya suspensoid. Bila zat polimer dan hidrofilik digunakan sebagai zat pensuspensi harus dilakukan tes yang tepat untuk membuktikan bahwa zat tersebut tidak mengganggu avabilitas dari zat aktif dalam suspensi tersebut. Bahan-bahan ini ternyata mengikat zat tertentu, sehingga tidak terdapat dalam sirkulasi atau memperlambat jalannya zat sehingga fungsi  diperlambat. Banyaknya zat pensuspensi tidak boleh menyebabkan suspensi tersebut terlalu kental dan tidak dapat dituangkan (Petrucci, 2007).
Dalam ilmu farmasi yaitu, salah satu bahan dasar salep, dimana dasar salep yang dapat tercampur dengan air, membentuk emulsi air di dalam minyak. Misalkan Parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat, emulsi air didalam minyak yang dapat bercampur setelah ditambahkan sejumlah larutan air misalnya, lanoli dimana bahwa dasar ini memiliki efek emolien, lubrikasi, proteksi serta dapat digunakan sebagai venikulum obat yang memiliki sifat dapat larut karena adanya sifat hidrofiliknya. Dasar ini lengkat, namun lebih dapat mudah dicuci dibandingkan dari dasar hidrokarbon. Dasar salep dapat dicuci dengan air, sehingga dapat digunakan untuk pembuatan krim, dasar salep yang dapat larut didalam air yang tidak berlemak akan sering digunakan untuk membuat persediaan gel, krim berdasarkan pada fase internalnya yaitu, adanya krim yang fase oil in water adalah kesediaan semisolid dengan kandungan air kurang dari 25% dengan minyak sebagai mediumnya. Pendispersi, sediaan ini tidak dilengket, di bandingkan dengan salep. Kandungan minyak dapat membuat efek emolien dan kandungan air memiliki efek pendingin dan jenis krim oil in water sediaan semisolidnya dengan kandungan air besar dari 31% merupakan formulasi yang paling penting sering dipilih untuk dermatoterapi yang sifatnya kurang berminyak (Lestari et al., 2017).
Produk pangan yang merupakan suatu jenis emulsi minyak dalam air contohnya adalah santan. Kestabilan emulsi santan tersebut sangat dipengaruhi oleh suhu penyimpanan dimana pada suhu kisaran 40oC emulsi cenderung lebih stabil, akan tetapi apabila suhu penyimpanan diturunkan 10oC kemudian dinaikkan lagi 28oC akan terjadi pembentukan gumpalan halus yang bahkan menjadi lebih banyak terbentuk apabila dilakukan proses pengadukan. Sifat-sifat komponen penyusunnya menjadi salah satu faktor penentuannya. Lemak cenderung terpisah dengan air sehingga membutuhkan adanya pengemulsinya yaitu pada protein (Muchlisyiyah, 2017).  


III. Prosedur percobaan
3.1 Alat dan Bahan
a. Alat
- Gelas piala 250 ml
- Gelas piala 100 ml
- Sentrifus
- Neraca listrik
- Gelas ukur 50 ml
- Gelas ukur 100 ml
b. Bahan
- Minyak kelapa (minyak sayur)
- Santan kelapa kental



3.2 Skema kerja
 



Dimasukkan 100 ml krim kelapa kedalam 4 gelas piala 250 ml
Dimasukkan masing – masing 50 ml dan 100 ml minyak kelapa kedalam 2 gelas piala dan diaduk selam 1 menit, lalu kedalam 2 gelas piala lainnya tanpa diaduk
Dibiarkan selama 10 jam
Diamati 3 lapisan yang terbentuk
Dipisahkan 3 lapisan, lapisan pertama dengan cara menuangkan dengan hati – hati, lapisan blondo dan air disentrifus
Hasil
 
Diamati endapan yang terbentuk



IV. Hasil dan Pembahasan
Pada percobaan kali ini praktikan melakukan percobaan yang berjudul “Demulsifikasi Emulsi” dimana praktikum ini bertujuan untuk memperlihatkan  perubahan tegangan antar muka. Dari praktikum yang telah dilakukan mengenai demulsifikasi emulsi diperoleh data hasil pengamatan sebagai berikut:
Tabel 4.1 Data hasil demulsifikasi emulsi minyak dan santan
No
Perlakuan
Volume Awal Minyak
Volume Awal Santan
Volume Akhir
Minyak
Berat Blondo
1
100 + 100 mL santan dan minyak diaduk
100 Ml
100 Ml
95 Ml
0,6003 gr
2
100 + 50 mL santan dan minyak diaduk
50  Ml
100 Ml
40 Ml
0,6464 gr
3
100 + 100 mL santan dan minyak  tanpa diaduk
100 Ml
100 Ml
94 Ml
0,6028 gr
4
100 + 50 mL santan dan minyak tanpa diaduk
50  Ml
100 Ml
41 Ml
0,871 gr
Emulsi adalah suatu sistem koloid yang fase terdispersinya berupa dua cairan yang tidak dapat bercampur atau yang tidak saling melarutkan. Berdasarkan pada data yang diperoleh yaitu di suatu zat padat ber disperse terdiri dari dua macam zat atau lebih yang sama atau berbeda fasenya. Heterogen adalah kedua fase tidak dapat bercampur sehingga partikel-partikelnya dapat dibedakan termasuk koloid dan suspense. Homogen adalah partikel-partikel kedua zat padat bercampur sehingga tidak dapat dipisahkan. Fase dari sistem dispersi dapat dibedakan menjadi.
1.    Fase dispersi yaitu fase yang disebarkan terpisah – pisah seperti gula dalam air
2.    Medium pendispersi yaitu fase yang kontinu dimana partikel-partikel fasa dispersi berada seperti air dalam larutan gula
      Perbedaan utama antara larutan biasa dispersi koloid dan suspense terletak pada besar partikel dispersi. Jenis campuran ukuran partikel larutan sejati < 10-7 dispersi koloid 10-7,10-5 suspansi kasar > 10-5. Dispersi koloid yaitu disperse heterogen dari dua fase yang tidak dapat bercampur yang reaktif permanen dengan beberapa sifat yang istimewa. Koloid yang fasenya terdispersinya cair disebut emulsi. Emulsi ada tiga jenis yaitu:
1.    Emulsi padat (cair dalam padat)
2.    Emulsi cair (cair dalam cair)
3.    Emulsi gas (cair dalam gas)
Syarat terjadinya emulsi ini adalah bahwa kedua jenis zat cair tersebut tidak saling melarutkan. Emulsi minyak dalam air (M/A) atau emulsi air dalam minyak (A/M). Dalam hal ini minyak diartikan sebagai semua zat cair yang tidak bercampur dengan air. Contoh emulsi air minyak (A/M) : mayonase minyak ikan emulsi terbentuk karena pengaruh suatu pengemulsian (emulgator). Contohnya adalah sabun yang dapat mengemulsikan minyak dalam air. Jika campuran minyak dengan air dikocok, maka akan diperoleh suatu campuran yang segera memisah jika didiamkan. Akan tetapi jika sebelum dikocok ditambahkan sabun atau detergen, maka diperoleh campuran yang stabil yang disebut emulsi. Emulsi adalah sistem koloid cair artinya fasa terdispersinya adalah cair dan medium pendispersi juga cair .
Suatu emulsi distabilkan oleh zat pemantap pada butir-butirnya. Sekarang dipandang satu butir dalam sistem emulsi yang terdiri atas fase terdispersi yang dilindungi oleh lapisan yang berisi molekul - molekul zat pemantap dan keseluruhan butir beserta pelindungnya ini berada dalam medium malar. Hal ini menyebabkan adanya dua pemukaan pada pelindung yaitu permukaan luar berbatasan dengan medium malar. Pada kedua permukaannya terdapat tegangan muka yang berbeda besarnya dan namakan saja dengan tegangan muka dalam dan tegangan muka luar menurut kaidah brancroft, kestabilan emulsi ini tercapai bila tegangan muka dalam lebih besar dari tegangan muka luar. Jika ingin memecahakan emulsi atau ingin melakukan demulsifikasi terhadap sistem, maka kestabilan harus di kurangi dengan cara misalnya saja menaikkan tegangan muka sehingga menuju tegangan muka dalam.
Emulgator atau zat pengemulsi didefinisikan sebagai senyawa yang mempunyai aktivitas permukaan surface active agents sehingga dapat menurunkan tegangan permukaan surface tension antara udara - cairan dan cairan - cairan yang terdapat dalam suatu sistem makanan. Kemampuannya menurunkan  tegangan permukaan menjadi hal menarik karena emulsifier memiliki kemampuan untuk menyatukan dua senyawa yang berbeda polaritasnya.
Prinsip ini dapat digunakan untuk melakukan demulsifikasi krim kelapa yang juga melakukan sistem emulsi, sehingga tegangan muka luar pada bagian butir - butir menjadi naik dan akhirnya emulsi terpecahkan atau terjadi demulsifikasi, demulsifikasi krim kelapa dalam percobaan ini dilakukan percobaan mengenai demulsifikasi emulsi. Sistem koloid fase cair – cair terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan medium  pendispersinya yang juga berupa cairan. Campuran yang terbentuk larutan yang bersifat heterogen.
Air yang bersifat polar tidak dapat bercampur dengan minyak yang non polar. Untuk dapat menggabungkan air dan minyak harus ada zat penghubung antara keduanya. Zat penghubung ini harus mempunyai gugus polar (gugus yang larut dalam air) dan juga non polar (larut dalam minyak) sehingga zat penghubung tersebut dapat bercampur dengan air dan dapat pula bercampur dengan minyak. Ditinjau dari interaksi fasa terdispersi dengan fasa pendispersi, koloid dapat dibagi koloid liofil dan koloid liofob.
1.    Koloid liofil yaitu koloid yang suka berikatan dengan mediumnya sehingga sulit  dipisahkan atau sangat stabil. Contoh agar- agar kanji
2.    Koloid liofob yaitu koloid yang tidak menyukai mediumnya sehingga cenderung memisah dari akibatnya tidak stabil. Bila mediumnya air disebut koloid hidrofob (tidak suka air) contoh: koloid Fe(OH)3 dalam air
% Blondo = Massa Blondo x 100%
Volume Larutan
 
Pada percobaan ini larutan didiamkan selama 18 jam bertujuan untuk melihat proses perubahan yang terjadi serta proses terbentuknya blondo pada larutan. Blondo merupakan residu dari suatu santan kelapa yang berbentuk padatan. Pada percobaan kali ini persentase blondo dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :


Berdasarkan fasa terdispersi dari fasa pendispersinya didapatkan grafik diatas. Di mana grafik tersebut menunjukkan bahwa 100 ml santan ditambah 50 ml minyak dan tanpa diaduk menunjukkan persentase blondo paling banyak yaitu 0,5 % dibandingkan dengan 100ml santan ditambah 50 ml minyak diaduk. Adapun untuk menstabilkan emulsi yaitu dengan cara menurunkan energi bebas pembentukan emulsi semaksimal mungkin dimana semakin rendah eneergi bebas pembentukan emulsi maka emulsi akan semakin mudah terbentuk. Terdapat sejumlah air dalan minyak dapat mengakibatkan terjadinya reaksi hidrolisi. Minyak atau asam lemak akan diubah menjadi asam lemak bebas dan gliserol reaksi ini akan menghasilkan flavour dan bau tengik pada minyak tersebut. Proses pengadukan dapat meningkatkan nilai viskositas larutan pada emulsi dan sebaliknya. Semakin baik proses pengadukan yang dilakukan maka akan semakin baik pula nilai viskositas yang didapat pada proses emulsi. Koloid dibagi atas 2 jenis: fase terdispersi dan fase pendispersi. sifat- sifat koloid antara lain :
1.    Sifat koligatif sifat ini hanya bergantung pada jumlah partikel koloid bukan pada jenuhmya. Sifat koligatif koloid umumnya lebih rendah dari pada larutan sejati dengan jumlah partikel yang sama. Sifat ini berguna untuk menghitung jumlah partikel koloid
2.    Sifat optis ukuran partikel koloid lebih besar dari larutan sejati, sehingga bila seberkas cahaya melewati akan dipantulkan. Arah pantulan ini tidak teratur karena partikel koloid tersebar secara acak
3.    Sifat kinetik gerak brown gerakan acak partikel koloid dalam suatu medium pendispersi terjadinya gerakan ini disebabkan oleh banyaknya tabrakan molekul-molekul medium pendispersi pada sisi-sisi partikel terdispersi tidak sama. Pengendapan (sedimentasi) partikel koloid cenderung untuk mengendap karena pengaruh dari gravitasi bumi, tergantung pada rapat massa partikel terhadap mediumnya
4.    Peristiwa pengendapan atau pencampurkan partikel-partikel koloid disebut koagulasi. Dapat dilakukan dengan proses pemanasan, pendingan dan penambahan elektrovit
Untuk memecahkan emulsi ada beberapa cara antara lain :
1.    Merusak emulgator yaitu dengan menambahkan zat - zat kimia yang dapat bereaksi dengan emulgator sehingga membentuk zat cair
2.    Penggaraman dilakukan dengan tujuan untuk pemecahan sistem emulsi santan didalam garam. Protein dalam santan akan larut dengan adanya penambahan garam
3.    Metode pengasaman pada prinsipnya metode denaturasi protein dikarenakan terbentuk ion zwitter pada kondisi isoelektrik
4.    Teknik pendingin didasarkan pada perbedaan antara titik beku air dan tiik beku minyak
Pada praktikum yang dilakukan ini digunakan alat sentrifugasi yang berfungsi untuk memisahkan blondo dengan campuran santan dan minyak dimana pekerjaan ini memerlukan waktu yang lumayan lama. Adapun cara kerja dari alat disentrifus ini yaitu dengan cara campuran dimasukkan didalamnya dan akan diputar oleh desentrifus.
Sentrifugasi adalah alat untuk memutar sampel pada kecepatan tinggi, memaksa partikel yang lebih berat terkumpul kedasar tabung sentrifus. Pemisahan antara filtra dan substrat. Prinsip kerja alat ini sentrifus berfungsi untuk memisahkan partikel-partikel dalam suatu larutan yang mempunyai berat molekul ynag berbeda. Sentrifus bekerja dengan menggunakan prinsip sedimentasi dimana percepatan sentripetal menyebabkan zat yang lebih padat akan mengendap didasar tabung. Dengan cara yang sama, blondo ringan akan cenderung bergerak ke atas tabung (melayang di dalam tabung). Gaya sentrifugal yang dihasilkan berasal dari putaran motor listrik maka semakin besar gaya sentifus yang dihasilkan, begitu juga sebaliknya. Bagian-bagian alat:
1.    Motor
2.    Speed contol
3.    Timer
4.    Break system
Penggunaan Sentrifugasi di Laboraturium sentrifugasi sangat berguna pada penelitian dan analisis biomolekuler karena dalam proses pemisahannya, tidak terjadi kerusakan struktur sampel. Seperti pada pemisahan protein-protein dalam sampel, pemisahan sukrosa, selulosa, virus dan beragam mikro-molekul lainnya. Aplikasi Sentrifugasi dalam Ilmu Kimia :
1. Pemisahan bubuk kapur dari air
2. Pemisahan lemak dari susu untuk membuat susu skim (skimmed milk)
3. Pemisahan komponen urin dari darah dalam analisis forensic
Klasifikasi Alat Sentrifuse ada beberapa klasifikasi Sentrifuse menurut jenisnya, yang antara lain : General Purpose Centrifuge, pada model biasanya adalah table top (bisa diletakkan di atas meja) yang dirancang untuk pemisahan sampel urine, serum atau cairan lain dari bahan padat yang tidak larut. Centrifuge ini biasanya berkecepatan 0-3000 rpm. Speciality Centrifuge, yaitu centrifuge yang dipakai untuk keperluan yang lebih spesifik. Seperti microhematocrit centrifuge dan blood bank centrifuges, yang dirancang untuk pemakaian spesifik di laboratorium klinik. Jenis lain adalah sentrifuse berkecepatan tinggi, yaitu ultracentrifuges dan refrigerated centrifuges . Sentrifuse berkecepatan tinggi berputar pada kecepatan sekitar 0-20.000 rpm dan ultra centrifuge berputar sangat cepat dengan kecepatan 50.000 rpm.


V. Kesimpulan dan Saran
    5.1 Kesimpulan 
            Pemecahan emulsi dapat dicapai dengan mengurangi kestabilan emulsi sehingga menjadi pecah serta kestabilan emulsi dapat dikurangi dengan membuat tegangan antar muka dimana mengubah nilainya menjadi lebih kecil atau lebih besar.
    5.2 Saran
Diharapkan praktikan dapat memahami fungsi setiap penambahan dan memahami prosedur dengan baik.





DAFTAR PUSTAKA
Sumardjo, D. 2008. Pengantar Kimia. Jakarta. EGC.
Muchlisyiyah, J., R. A. Laeliocattleya dan W. D. R. Putri. 2017. Kimia Fisik
Pangan. Malang: UB Press.
Lestari, B., M. Biomed., S. Soeharto., Nurdiana., U. Kalsum., N. Permatasari.,       H. Khotimah., D. Nugrahenny dan E. Mayangsari. 2017. Farmakologi           Dasar. Malang: UB press.
Attkins, P. W. 1996. Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga.
Petrucci, R. H. W. S. Harwood. F. G. Herring dan J. D. Madura. 2007.
Kimia Dasar Prinsip – Prinsip dan Aplikasi Modern. Jakarta: Erlangga.







LAMPIRAN
  1. Perhitungan
1.    100 mL minyak + 100 mL santan (diaduk)
%Blondo       =  Massa blondo   X 100 %
  Volume larutan
                                                =  0,6003 gr  X  1000%
                                                     200 mL
                                                = 0,3% w/v
2.    100 mL minyak + 100 mL santan (tidak diaduk)
%Blondo          =  Massa blondo   X 100%
  Volume larutan
                                                = 0,6028 gr X 100%
                                                     200 Ml
= 0,3 % w/v
3.    50 mL minyak + 100 mL santan (diaduk)
%Blondo          =  Massa blondo   X 100%
                                 Volume larutan
= 0,6464 gr X 100%
           
   150 mL
                                                = 0,4%w/v
4.    50 mL minyak + 100 mL santan (tanpa diaduk)
%Blondo          =  Massa blondo   X 100%
                                Volume larutan
                                                = 0,871 gr X 100%
                                                  150 mL
                                                = 0,5%
w/v


  1. Pertanyaan pasca praktikum
  1. Tentukan pertambahan minyak pada setiap perlakuan  
Jawab:
-       Untuk 100 mL minyak +100 mL santan diaduk volume minyak tidak bertambah.
-       100 mL santan + 50 mL minyak diaduk volume minyak tidak bertambah.
-       100 mL santan + 100 mL minyak tanpa diaduk volume minyak tidak bertambah.
-       100 mL santan + 50 mL minyak tanpa diaduk volume minyak tidak bertambah.
  1. Tentukan berat blondo setiap perlakuan
Jawab :
-       100 mL minyak +100 mL santan diaduk berat blondo sebesar 0,3%.
-       100 mL santan + 50 mL minyak diaduk berat blondo sebesar 0,4%.
-       100 mL santan + 100 mL minyak tanpa diaduk berat blondo sebesar 0,3%.
-       100 mL santan + 50 mL minyak tanpa diaduk berat blondo sebesar 0,5%
  1. Bagaimana hubungan pertambahan minyak dengan berat blondo yang didapat
Jawab :
Hubungan pertambahan minyak dengan berat blondo yang didapatkan adalah semakin banyak pertambahan minyak maka beratnya semakin banyak.
  1. Apakah ada perbedaan pertambahan minyak dan berat blondo untuk perlakuan yang diaduk dengan perlakuan tanpa diaduk
Jawab :
Untuk pertambahan minyak lebih banyak dengan perlakuan diaduk, sedangkan berat blondo lebih banyak dengan perlakuan tanpa diaduk.


  1. Dokumentasi
Gambar 2. Minyak 100 ml dan santan 100 ml tanpa di aduk serta minyak 50 ml dan santan 100 ml tanpa di aduk

 
Gambar 1. Minyak 100 ml dan santan 100 ml di aduk serta minyak 50 ml dan santan 100 ml di aduk

 
   IMG_20181018_082555.jpg             IMG_20181018_082555.jpg





Gambar 4. Berat blondo dari berat alfol + 100 ml santan yang di aduk

 
Gambar 3. Berat alumunium foil kosong

 
      IMG-20181028-WA0015.jpg                                IMG-20181028-WA0014.jpg


Gambar 6. Berat blondo dari berat alfol + 100 ml santan tanpa di aduk

 
Gambar 5. Berat blondo dari berat alfol + 50 ml santan yang di aduk

 
       IMG-20181028-WA0018.jpg                                IMG-20181028-WA0017.jpg

Gambar 7. Berat blondo dari berat alfol + 50 ml santan tanpa di aduk

 
       IMG-20181028-WA0020.jpg                                IMG-20181028-WA0016.jpg  
Gambar 8. Disentrifus
 
 




Gambar 10. Volume minyak 50 ml menjadi 41 ml tanpa diaduk

 
Gambar 9. Volume minyak dari 100 ml jadi 95 ml setelah di aduk

 
      IMG-20181028-WA0054.jpg                                IMG-20181028-WA0055.jpg


Gambar 12. Volume 50 ml menjadi 40  ml setelah di aduk

 
Gambar 11. Volume 100 ml menjadi 94 ml tanpa di aduk


 
       IMG-20181028-WA0056.jpg                                IMG-20181028-WA0057.jpg




 berantakan.hiks. yang mau filenya tinggalkan jejak ;)