PERCOBAAN V
DEMULSIFIKASI EMULSI
I. Tujuan
Untuk menunjukkan demulsifikasi emulsi karena
perubahan tegangan
antar muka.
II. Landasan
Teori
Emulsi adalah suatu
suatu sistem koloid yang fase terdispersi dan medium pendispersinya berupa
cairan yang tidak dapat bercampur. Misalnya benzena dalam air, minyak dalam air
dan air susu . Mengingat kedua fase tidak dapat bercampur, keduanya akan segera
memisah. Untuk menjaga agar emulsi tersebut mantap atau stabil, perlu
ditambahkan zat ketiga yang disebut emulgator atau pengemulsi. Beberapa bahan
kimia alami dapat digunakan sebagai emulgator seperti gelatin, pektin. Kuning
telur, pasta kanji, kasein. Albumin, gom
arab dan madu alam. Bahan kimia sintesis seperti sabun, deterjen, kalsium butirat, CMC (Carboxy Methyl
Cellulose), metil selulosa dan etanolamin juga dapat dipakai untuk maksud yang
sama. Syarat emulgator adalah molekul-molekulnya mempunyai afinitas terhadap
kedua cairan yang membentuk emulsi. Daya afinitasnya harus parsial atau tidak
sama terhadap kedua cairan tersebut. Salah satu ujung emulgator larut dalam
cairan yang satu, sedangkan ujung yang lain hanya membentuk lapisan tipis atau selapis
molekul di sekeliling atau di atas permukaan cairan yang lain. Jika kita
mempunyai cairan L1 dan L2 yang tidak tercampur kan kemudian ditambahkan dengan
emulgator dan dikocok kemungkinan akan timbul emulsi jenis L1/L2 atau L2/L1. Jenis
emulsi L2/L1 akan terbentuk bila emulgator larut dengan baik dalam L1 dan
membentuk lapisan monomolekuler di atas permukaan L2. Jenis emulsi L1/L2 terjadi
sebaliknya yaitu, bila emulgator larut dengan baik dalam L2 dan membentuk
lapisan monomolekuler di atas permukaan pada permukaan L1 (Sumardjo, 2008).
Sistem emulsi dapat distabilkan dalam jangka waktu
lama apabila ditambahkan senyawa yang memiliki kemampuan untuk mengikat dua
senyawa yang berbeda kepolaran tersebut. Emulsi yang stabil pada dasarnya tersusun
dari tiga komponen yaitu fase polar
(suka air = hidrofilik) fase non polar
(suka minyak = hidrofobik) dan senyawa yang memiliki kemampuan berikatan dengan
senyawa polar sekaligus senyawa non polar yang disebut sebagai emulsifer (pengemulsi). Emulsi
terdapat dua tipe yaitu, berdasarkan apa fase terdisfersi /fase pendisfersinya yaitu:
- Minyak sebagai fase yang terdispersi
dalam air, emulsi ini disebut
sebagai minyak di dalam air yang seringkali dituliskan sebagai oil in
water.
- Air sebagai fase terdispersi dalam
minyak, emulsi
ini adalah air didalam
minyak dan dituliskan sebagai water in oil.
Zat pengemulsi dapat
dipilah sesuai fungsinya, sumber, jenis, sifat ionisasi, serta kelarutannya
karenaluas dan beraneka variasi pengemulsi dengan berbagai sifatnya. Jika tidak
ada satu sistem pengelompokkan yang berlaku sempurna menyeluruh. Istilah emulsi
bagi pangan sebenarnya bukan sekedar emulsi. Sifat dan pengaruhnya tidak hanya
mengemulsikan tetapi luas dari itu. Zat pengemulsi dapat dikelompokkan
berdasarkan kecenderungan ionisasi dalam larut berair yaitu ionik dan tak ionik.
Pengelompokkan sesuai sifat dan ciri kelarutannya dapat lipofilik (suka minyak)
atau hidrofilik (suka air).
Klasifikasi emulsi yang lainnya
adalah berdasarkan ukuran partikel yang terdispersi, yaitu makroemulsi (ukuran partikel adalah lebih besar
dari 0,1 µm) dan mikroemulsi (partikel berukuran
lebih kecil dari 100 nm). Tipe emulsi yang berbeda akan
membutuhkan pengemulsi yang
berbeda pula untuk mempertahankan kestabilannya
dalam waktu lama (Muchlisyiyah et al., 2017).
Partikel dari fase dispersi biasanya bahan
padat yang tidak larut dalam medium disperse. Dalam hal suatu emulsi, fase terdispersi
adalah bahan cair yang tidak larut maupun bercampur dengan cairan dari fase pendispersi. Proses emulsifikasi menghasilkan
disporse obat cair sehalus tetesan - tetesan pada fase pendisperse. Partikel dari fase terdispersi
ukurannya sangat berbeda – beda, dari partikel yang
dapat dilihat dengan mata telanjang sampai kepartikel dari ukuran koloid, jatuh antara 1 milimikron dan kira-kira 500
milimikron atau 0,5 mikron. Dispersi yang berisi partikel-partikel
kasar biasa dengan ukuran 1 - 100
mikron, disebut juga sebagai
dispersi kasar yang mengandung
partikel dengan ukuran kecil disebut dispersi halus dan bila partikel-partikel
yang ada dalam batas kiloid
disebut dispersi koloid (Atkins, 1996).
Dalam suspensi saat
padat yang dalam terdispersi
harus halus dan tidak boleh cepat mengendap.
Jika dikocok-kocok
perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi kembali. Dapat mengandung zat tambahan
untuk menjamin stabilitas suspense. Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu
tinggi sehingga
mudah dikocok dan dituang.
Seringkali
partikel-partikel dari suatu suspensi mengendap terlalu cepat sehingga tidak
konstan dengan batasan sebagai suatu preparat yang baik. Pengendapan yang cepat tersebut merintangi pengukuran dosis
yang tepat dan dari segi estetis menghasilkan suatu lapisan supernatant yang tidak sedap dipandang. Dalam banyak suspensi yang
beredar di perdagangan,
zat pensuspensi ditambahkan
kemedium dispersi untuk menghasilkan struktur yang membantu terdispersinya fase dalam suspensi. Karboksimetil selulosa dan bentonit merupakan beberapa
diantara zat pensuspensi yang
di digunakan untuk mengentalkan
medium dispersi dan membantu terdispersinya suspensoid. Bila zat polimer dan hidrofilik digunakan
sebagai zat pensuspensi harus dilakukan tes yang
tepat untuk membuktikan bahwa zat tersebut tidak mengganggu avabilitas dari zat aktif dalam
suspensi tersebut. Bahan-bahan
ini ternyata mengikat zat tertentu, sehingga tidak terdapat dalam sirkulasi atau memperlambat
jalannya zat
sehingga fungsi diperlambat. Banyaknya zat pensuspensi
tidak boleh menyebabkan suspensi tersebut terlalu kental dan tidak dapat
dituangkan (Petrucci, 2007).
Dalam ilmu farmasi
yaitu, salah satu bahan
dasar salep, dimana dasar salep yang dapat
tercampur dengan air,
membentuk emulsi
air di dalam minyak. Misalkan Parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat,
emulsi
air didalam minyak yang dapat bercampur setelah ditambahkan sejumlah larutan
air misalnya, lanoli
dimana bahwa dasar ini
memiliki efek emolien, lubrikasi, proteksi
serta dapat digunakan sebagai venikulum obat
yang memiliki sifat dapat larut karena adanya sifat hidrofiliknya. Dasar
ini lengkat,
namun lebih dapat mudah dicuci dibandingkan dari dasar hidrokarbon. Dasar salep dapat
dicuci dengan air, sehingga
dapat digunakan untuk pembuatan krim, dasar salep yang dapat larut didalam air
yang tidak berlemak akan
sering digunakan untuk membuat persediaan gel, krim berdasarkan pada fase internalnya yaitu, adanya krim yang fase oil in water adalah
kesediaan semisolid dengan kandungan air kurang dari 25% dengan minyak
sebagai mediumnya. Pendispersi, sediaan
ini tidak dilengket, di bandingkan dengan salep. Kandungan minyak dapat
membuat efek emolien dan kandungan
air memiliki efek pendingin dan jenis krim oil in water sediaan semisolidnya dengan kandungan
air besar dari 31% merupakan formulasi yang paling penting sering dipilih untuk
dermatoterapi yang sifatnya kurang berminyak (Lestari et al.,
2017).
Produk pangan yang
merupakan suatu jenis emulsi
minyak dalam air contohnya adalah santan.
Kestabilan emulsi santan tersebut
sangat dipengaruhi oleh suhu penyimpanan dimana pada suhu kisaran 40oC emulsi cenderung lebih
stabil, akan tetapi apabila
suhu penyimpanan
diturunkan 10oC kemudian dinaikkan
lagi 28oC akan terjadi
pembentukan gumpalan halus yang bahkan menjadi lebih banyak terbentuk apabila
dilakukan proses pengadukan. Sifat-sifat komponen penyusunnya
menjadi salah satu faktor penentuannya.
Lemak cenderung
terpisah dengan air sehingga membutuhkan adanya pengemulsinya yaitu pada protein (Muchlisyiyah, 2017).
III. Prosedur percobaan
3.1 Alat dan Bahan
a.
Alat
-
Gelas piala 250 ml
-
Gelas piala 100 ml
-
Sentrifus
-
Neraca listrik
-
Gelas ukur 50 ml
- Gelas ukur 100 ml
b. Bahan
-
Minyak kelapa (minyak sayur)
-
Santan kelapa kental
3.2 Skema kerja
![]() |
|
Diamati endapan yang terbentuk
IV. Hasil dan Pembahasan
Pada percobaan kali ini praktikan melakukan
percobaan yang berjudul “Demulsifikasi Emulsi” dimana praktikum ini bertujuan
untuk memperlihatkan perubahan tegangan
antar muka. Dari praktikum yang telah
dilakukan mengenai demulsifikasi
emulsi diperoleh data hasil
pengamatan sebagai berikut:
Tabel 4.1 Data
hasil demulsifikasi emulsi minyak dan santan
|
No
|
Perlakuan
|
Volume Awal Minyak
|
Volume Awal Santan
|
Volume Akhir
Minyak
|
Berat Blondo
|
|
1
|
100 + 100 mL santan dan minyak
diaduk
|
100 Ml
|
100 Ml
|
95 Ml
|
0,6003 gr
|
|
2
|
100 + 50 mL santan dan minyak
diaduk
|
50 Ml
|
100 Ml
|
40 Ml
|
0,6464 gr
|
|
3
|
100 + 100 mL santan dan
minyak tanpa diaduk
|
100 Ml
|
100 Ml
|
94 Ml
|
0,6028 gr
|
|
4
|
100 + 50 mL santan dan minyak
tanpa diaduk
|
50 Ml
|
100 Ml
|
41 Ml
|
0,871 gr
|
Emulsi adalah suatu sistem koloid yang fase
terdispersinya berupa dua cairan yang tidak dapat bercampur atau yang tidak
saling melarutkan. Berdasarkan pada data
yang diperoleh yaitu di suatu zat padat ber disperse terdiri dari dua macam zat
atau lebih yang sama atau berbeda fasenya. Heterogen
adalah kedua fase tidak dapat bercampur sehingga partikel-partikelnya dapat
dibedakan termasuk koloid dan suspense. Homogen
adalah partikel-partikel kedua zat padat bercampur sehingga tidak dapat
dipisahkan. Fase dari sistem dispersi dapat dibedakan menjadi.
1.
Fase dispersi yaitu fase
yang disebarkan terpisah – pisah seperti gula dalam air
2.
Medium pendispersi yaitu
fase yang kontinu dimana partikel-partikel fasa dispersi berada seperti air
dalam larutan gula
Perbedaan utama antara
larutan biasa dispersi koloid dan suspense terletak pada besar partikel
dispersi. Jenis campuran ukuran partikel larutan sejati < 10-7 dispersi
koloid 10-7,10-5 suspansi kasar > 10-5. Dispersi
koloid yaitu disperse heterogen dari dua fase yang tidak dapat bercampur yang
reaktif permanen dengan beberapa sifat yang istimewa. Koloid
yang fasenya terdispersinya cair disebut emulsi. Emulsi ada tiga jenis yaitu:
1.
Emulsi padat (cair dalam
padat)
2.
Emulsi cair (cair dalam
cair)
3.
Emulsi gas (cair dalam gas)
Syarat terjadinya emulsi ini adalah bahwa kedua jenis zat cair
tersebut tidak saling melarutkan. Emulsi minyak dalam air (M/A) atau emulsi
air dalam minyak (A/M). Dalam hal ini minyak diartikan sebagai semua zat cair
yang tidak bercampur dengan air. Contoh emulsi air minyak
(A/M) : mayonase minyak ikan emulsi terbentuk karena pengaruh
suatu pengemulsian (emulgator). Contohnya adalah sabun yang dapat mengemulsikan
minyak dalam air. Jika campuran minyak dengan air dikocok, maka akan diperoleh
suatu campuran yang segera memisah jika didiamkan. Akan tetapi jika sebelum
dikocok ditambahkan sabun atau detergen, maka diperoleh campuran yang stabil
yang disebut emulsi. Emulsi adalah sistem
koloid cair artinya fasa terdispersinya adalah cair dan medium pendispersi juga
cair .
Suatu emulsi
distabilkan oleh zat pemantap pada butir-butirnya. Sekarang
dipandang satu butir dalam sistem emulsi yang terdiri atas fase terdispersi
yang dilindungi oleh lapisan yang berisi molekul - molekul
zat pemantap dan keseluruhan butir beserta pelindungnya ini berada dalam medium
malar. Hal ini menyebabkan adanya dua pemukaan pada pelindung yaitu permukaan
luar berbatasan dengan medium malar. Pada kedua permukaannya terdapat tegangan
muka yang berbeda besarnya dan namakan saja dengan tegangan muka dalam dan
tegangan muka luar menurut kaidah brancroft, kestabilan
emulsi ini tercapai bila tegangan muka dalam lebih besar dari tegangan muka
luar. Jika ingin memecahakan emulsi atau ingin melakukan demulsifikasi terhadap
sistem, maka kestabilan harus di kurangi dengan cara misalnya saja menaikkan
tegangan muka sehingga menuju tegangan muka dalam.
Emulgator atau zat
pengemulsi didefinisikan sebagai senyawa yang mempunyai aktivitas permukaan surface active agents sehingga dapat menurunkan tegangan
permukaan surface tension antara udara - cairan dan cairan - cairan yang terdapat dalam suatu sistem makanan. Kemampuannya menurunkan tegangan permukaan menjadi hal menarik karena emulsifier memiliki kemampuan untuk menyatukan dua senyawa yang berbeda
polaritasnya.
Prinsip ini dapat digunakan untuk melakukan demulsifikasi krim
kelapa yang juga melakukan sistem emulsi, sehingga
tegangan muka luar pada bagian butir - butir
menjadi naik dan akhirnya emulsi terpecahkan atau terjadi demulsifikasi,
demulsifikasi krim kelapa dalam percobaan ini dilakukan percobaan mengenai demulsifikasi emulsi. Sistem koloid fase cair – cair terbentuk dari fase
terdispersi berupa zat cair dan medium
pendispersinya
yang juga berupa cairan. Campuran
yang terbentuk
larutan yang bersifat heterogen.
Air yang bersifat polar tidak dapat bercampur dengan minyak yang
non polar. Untuk dapat menggabungkan air dan minyak harus ada zat penghubung
antara keduanya. Zat penghubung ini harus mempunyai gugus polar (gugus
yang larut dalam air) dan juga non polar (larut dalam minyak) sehingga zat penghubung
tersebut dapat bercampur dengan air dan dapat pula bercampur dengan minyak.
Ditinjau dari interaksi fasa terdispersi dengan fasa pendispersi, koloid dapat
dibagi koloid liofil dan koloid liofob.
1.
Koloid liofil yaitu koloid
yang suka berikatan dengan mediumnya sehingga sulit dipisahkan atau sangat stabil. Contoh agar-
agar kanji
2.
Koloid liofob yaitu koloid
yang tidak menyukai mediumnya sehingga cenderung memisah dari akibatnya tidak
stabil. Bila mediumnya air disebut koloid hidrofob (tidak suka air) contoh:
koloid Fe(OH)3 dalam air


|
Pada percobaan
ini larutan didiamkan selama 18 jam bertujuan untuk melihat proses perubahan
yang terjadi serta proses terbentuknya blondo pada larutan. Blondo merupakan
residu dari suatu santan kelapa yang berbentuk padatan. Pada percobaan kali ini
persentase blondo dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut
:
Berdasarkan fasa terdispersi dari fasa
pendispersinya didapatkan grafik diatas. Di mana grafik tersebut menunjukkan
bahwa 100 ml santan ditambah 50 ml minyak dan tanpa diaduk menunjukkan
persentase blondo paling banyak yaitu 0,5 % dibandingkan dengan 100ml santan
ditambah 50 ml minyak diaduk. Adapun
untuk menstabilkan emulsi yaitu dengan cara menurunkan energi bebas pembentukan
emulsi semaksimal mungkin dimana semakin rendah eneergi bebas pembentukan
emulsi maka emulsi akan semakin mudah terbentuk. Terdapat sejumlah air dalan
minyak dapat mengakibatkan terjadinya reaksi hidrolisi. Minyak atau asam lemak
akan diubah menjadi asam lemak bebas dan gliserol reaksi ini akan menghasilkan
flavour dan bau tengik pada minyak tersebut. Proses pengadukan dapat meningkatkan
nilai viskositas larutan pada emulsi dan sebaliknya. Semakin baik proses
pengadukan yang dilakukan maka akan semakin baik pula nilai viskositas yang
didapat pada proses emulsi. Koloid dibagi atas 2 jenis: fase terdispersi dan fase
pendispersi. sifat- sifat koloid antara lain :
1. Sifat koligatif sifat ini hanya bergantung
pada jumlah partikel koloid bukan pada jenuhmya. Sifat koligatif koloid umumnya
lebih rendah dari pada larutan sejati dengan jumlah partikel yang sama. Sifat
ini berguna untuk menghitung jumlah partikel koloid
2. Sifat optis ukuran partikel koloid lebih
besar dari larutan sejati, sehingga bila seberkas cahaya melewati akan
dipantulkan. Arah pantulan ini tidak teratur karena partikel koloid tersebar
secara acak
3. Sifat kinetik gerak brown gerakan acak
partikel koloid dalam suatu medium pendispersi terjadinya gerakan ini
disebabkan oleh banyaknya tabrakan molekul-molekul medium pendispersi pada
sisi-sisi partikel terdispersi tidak sama. Pengendapan (sedimentasi)
partikel koloid cenderung untuk mengendap karena pengaruh dari gravitasi bumi,
tergantung pada rapat massa partikel terhadap mediumnya
4. Peristiwa
pengendapan atau pencampurkan partikel-partikel koloid disebut koagulasi. Dapat
dilakukan dengan proses pemanasan, pendingan
dan penambahan
elektrovit
Untuk memecahkan emulsi ada beberapa cara antara lain :
1. Merusak emulgator yaitu dengan menambahkan
zat - zat kimia yang dapat bereaksi
dengan emulgator sehingga membentuk zat cair
2. Penggaraman dilakukan dengan tujuan untuk pemecahan
sistem emulsi santan didalam garam. Protein dalam santan akan larut dengan
adanya penambahan garam
3. Metode pengasaman pada prinsipnya metode
denaturasi protein dikarenakan terbentuk ion zwitter pada kondisi isoelektrik
4. Teknik pendingin didasarkan pada perbedaan
antara titik beku air dan tiik beku minyak
Pada praktikum yang dilakukan ini digunakan alat sentrifugasi yang berfungsi untuk memisahkan blondo dengan campuran
santan dan minyak dimana pekerjaan ini memerlukan waktu yang lumayan lama. Adapun cara kerja dari alat disentrifus ini yaitu dengan cara campuran dimasukkan
didalamnya dan akan diputar oleh desentrifus.
Sentrifugasi adalah alat untuk memutar sampel pada
kecepatan tinggi, memaksa partikel yang lebih berat terkumpul kedasar tabung
sentrifus. Pemisahan antara filtra dan substrat. Prinsip kerja alat ini
sentrifus berfungsi untuk memisahkan partikel-partikel dalam suatu larutan yang
mempunyai berat molekul ynag berbeda. Sentrifus bekerja dengan menggunakan
prinsip sedimentasi dimana percepatan sentripetal menyebabkan zat yang lebih padat akan mengendap didasar tabung. Dengan
cara yang sama, blondo ringan akan cenderung bergerak ke
atas tabung (melayang di dalam tabung). Gaya sentrifugal yang dihasilkan berasal dari putaran motor listrik maka
semakin besar gaya sentifus yang dihasilkan, begitu juga sebaliknya. Bagian-bagian alat:
1. Motor
2. Speed contol
3. Timer
4. Break system
Penggunaan Sentrifugasi di Laboraturium sentrifugasi sangat
berguna pada penelitian dan analisis biomolekuler karena dalam proses
pemisahannya, tidak terjadi kerusakan struktur sampel. Seperti pada pemisahan
protein-protein dalam sampel, pemisahan sukrosa, selulosa, virus dan beragam
mikro-molekul lainnya. Aplikasi Sentrifugasi dalam Ilmu Kimia :
1. Pemisahan bubuk kapur
dari air
2. Pemisahan lemak dari susu
untuk membuat susu skim (skimmed milk)
3. Pemisahan komponen
urin dari darah dalam analisis forensic
Klasifikasi Alat Sentrifuse ada
beberapa klasifikasi Sentrifuse menurut jenisnya, yang antara lain : General
Purpose Centrifuge, pada model biasanya adalah table top
(bisa diletakkan di atas meja) yang dirancang untuk pemisahan sampel urine,
serum atau cairan lain dari bahan padat yang tidak larut. Centrifuge
ini biasanya berkecepatan 0-3000 rpm.
Speciality Centrifuge, yaitu
centrifuge yang dipakai untuk keperluan yang lebih spesifik. Seperti
microhematocrit centrifuge dan blood bank centrifuges, yang dirancang untuk
pemakaian spesifik di laboratorium klinik. Jenis
lain adalah sentrifuse berkecepatan tinggi, yaitu ultracentrifuges dan refrigerated
centrifuges . Sentrifuse berkecepatan tinggi berputar pada kecepatan sekitar 0-20.000 rpm dan ultra centrifuge
berputar sangat cepat
dengan kecepatan 50.000 rpm.
V. Kesimpulan dan Saran
5.1
Kesimpulan
Pemecahan emulsi dapat dicapai dengan mengurangi kestabilan emulsi sehingga
menjadi pecah serta kestabilan emulsi dapat dikurangi dengan membuat tegangan
antar muka dimana mengubah nilainya menjadi lebih kecil atau lebih besar.
5.2 Saran
Diharapkan praktikan dapat memahami fungsi setiap
penambahan dan memahami prosedur dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Sumardjo, D. 2008. Pengantar Kimia. Jakarta. EGC.
Muchlisyiyah, J., R. A. Laeliocattleya dan W. D.
R. Putri. 2017. Kimia Fisik
Pangan. Malang: UB Press.
Lestari, B., M. Biomed., S. Soeharto., Nurdiana., U.
Kalsum., N. Permatasari., H.
Khotimah., D. Nugrahenny dan E. Mayangsari. 2017. Farmakologi Dasar. Malang: UB press.
Attkins, P. W. 1996. Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga.
Petrucci,
R. H. W. S. Harwood. F. G. Herring dan J. D. Madura. 2007.
Kimia Dasar Prinsip – Prinsip dan Aplikasi Modern. Jakarta: Erlangga.
Kimia Dasar Prinsip – Prinsip dan Aplikasi Modern. Jakarta: Erlangga.
LAMPIRAN
- Perhitungan
1.
100 mL minyak +
100 mL santan (diaduk)
Volume larutan
200 mL
=
0,3% w/v
2.
100 mL minyak + 100 mL santan (tidak diaduk)
Volume larutan
200 Ml
=
0,3 % w/v
3.
50 mL
minyak + 100 mL santan (diaduk)
%Blondo = Massa blondo X 100%
150 mL
=
0,4%w/v
4.
50 mL
minyak + 100 mL
santan (tanpa diaduk)
%Blondo = Massa blondo X 100%
150 mL
= 0,5%w/v
= 0,5%w/v
- Pertanyaan pasca praktikum
- Tentukan
pertambahan minyak pada setiap perlakuan
Jawab:
-
Untuk
100 mL minyak +100 mL santan diaduk volume
minyak tidak bertambah.
-
100 mL santan + 50 mL
minyak diaduk volume minyak tidak bertambah.
-
100 mL santan + 100 mL minyak tanpa diaduk volume minyak tidak bertambah.
-
100 mL santan + 50 mL minyak tanpa diaduk volume minyak tidak
bertambah.
- Tentukan berat blondo setiap
perlakuan
Jawab :
-
100 mL
minyak +100 mL santan diaduk berat blondo sebesar 0,3%.
-
100 mL santan + 50 mL
minyak diaduk berat blondo sebesar 0,4%.
-
100 mL santan + 100 mL minyak tanpa diaduk berat blondo sebesar 0,3%.
-
100 mL santan + 50 mL minyak tanpa diaduk berat blondo sebesar 0,5%
- Bagaimana
hubungan pertambahan minyak dengan berat blondo yang didapat
Jawab :
Hubungan
pertambahan minyak dengan berat blondo yang didapatkan adalah semakin banyak
pertambahan minyak
maka beratnya semakin banyak.
- Apakah ada
perbedaan pertambahan minyak dan berat blondo untuk perlakuan
yang diaduk dengan perlakuan tanpa diaduk
Jawab :
Untuk
pertambahan minyak lebih banyak dengan perlakuan diaduk, sedangkan berat blondo lebih banyak dengan
perlakuan tanpa diaduk.
- Dokumentasi
|
|

|
|

|
|

|
|
|
|

|
|

berantakan.hiks. yang mau filenya tinggalkan jejak ;)
